Wednesday, 23 September 2026
Hot

Tidak Punya Gelar Pakar, Tapi Punya Banyak Akal

Pelaku UMKM Indonesia membuktikan bahwa kecerdasan bukan sekadar gelar atau teori. Dengan kreativitas, inovasi, dan kemampuan beradaptasi, mereka terus bertahan, berkembang, dan menggerakkan ekonomi bangsa.

Article ad before first paragraph
tidak punya gelar pakar, tapi punya banyak akal (1)
Di tengah aktivitas pasar tradisional, pemanfaatan teknologi digital semakin membuka peluang baru. Beradaptasi menjadi modal penting untuk tetap berkembang di era modern.

Ada satu kalimat Presiden Prabowo Subianto dalam perayaan HUT ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) yang belakangan ramai dibicarakan. Saat menyampaikan pidato di Jakarta, 18 September 2026, Prabowo menyinggung sejumlah pakar yang menurutnya terlalu merasa pintar hingga menyampaikan kritik yang dianggapnya berubah menjadi fitnah. “Saking pintarnya jadi goblok,” kata Prabowo.

Saya tidak ingin ikut masuk ke perdebatan siapa yang pintar dan siapa yang goblok. Biarlah perdebatan itu menjadi urusan para pakar, pemerintah, dan mereka yang merasa perlu berdebat. Saya justru teringat pada orang-orang yang setiap hari bekerja di luar ruang rapat. Mereka adalah para pelaku usaha. Coba kita lihat pedagang gorengan di pinggir jalan. Pagi-pagi sudah belanja bahan baku, menghitung harga tepung, minyak, cabai, gas, sampai ongkos transportasi. Setelah itu menentukan harga jual. Kalau harga minyak naik, dia harus berpikir lagi harga dinaikkan atau ukuran gorengan diperkecil?

Article ad in the middle of article

Belum selesai. Ia juga harus memikirkan bagaimana dagangannya habis sebelum sore. Kalau tidak habis, besok modalnya berkurang. Itu namanya berpikir. Bahkan mungkin lebih dari sekadar berpikir. Itu adalah kecerdasan praktis.

Ada ibu-ibu yang memulai usaha makanan dari dapur rumah. Awalnya hanya menawarkan kepada tetangga, kemudian masuk WhatsApp. Lalu mencoba Instagram setelah itu belajar membuat video pendek kemudian mencoba marketplace. Ketika produknya tidak laku, dia tidak membuat buku tentang kegagalan pemasaran. Dia mengubah kemasan. Kalau masih tidak laku, dia ganti foto. Kalau masih belum laku juga, dia membuat varian baru lagi. Begitulah pengusaha kecil belajar. Cepat, sederhana dan kadang sambil menggendong anak. Dan yang menarik, mereka belajar bukan karena mengejar gelar. Mereka belajar karena kalau tidak belajar, usahanya bisa berhenti.

Di situlah saya kira kita perlu melihat kembali makna kecerdasan. Orang cerdas tidak selalu berada di ruang ber-AC, memakai jas, dan berbicara dengan istilah yang sulit dipahami. Kadang ia berada di belakang gerobak, kadang di dapur rumah, kadang di pasar, kadang duduk di depan warung sambil menghitung uang receh hasil penjualan hari itu.

Bahkan banyak inovasi UMKM lahir bukan dari laboratorium besar, melainkan dari keterbatasan. Bahan baku mahal, modal sedikit, tenaga terbatas, konsumen berubah. Semua itu memaksa pengusaha kecil mencari jalan keluar.

Singkong diubah menjadi keripik dengan berbagai rasa. Pisang biasa dibuat menjadi produk dengan kemasan menarik. Makanan tradisional dijual melalui media sosial. Produk lokal dipasarkan ke luar kota.

Mereka mungkin tidak menyebutnya innovation strategy. Tetapi yang mereka lakukan memang inovasi. Mereka mungkin tidak menyebutnya market adaptation. Tetapi mereka sedang beradaptasi dengan pasar. Mereka juga tidak sibuk menyebut dirinya entrepreneur. Mereka cukup mengatakan, “Saya sedang mencari nafkah, namanya juga usaha.” Sederhana sekali.

Karena itu, kalau kita sedang membicarakan orang pintar dan orang goblok, jangan lupa ada jutaan pelaku UMKM yang setiap hari sedang membuktikan kecerdasannya melalui pekerjaan nyata. Mereka tidak membutuhkan panggung untuk terlihat pintar. Mereka membutuhkan akses modal yang masuk akal, pasar yang terbuka, pendampingan yang benar-benar membantu, teknologi yang mudah digunakan, serta kebijakan yang tidak membuat mereka semakin sibuk mengurus administrasi daripada mengurus dagangan. Dan satu hal lagi, mereka butuh untuk didengarkan. Sebab orang yang berada di lapangan sering kali mengetahui masalah yang tidak terlihat dari balik meja.

Mungkin di sinilah kita bisa mengambil pelajaran dari perdebatan tentang pakar yang disebut goblok tersebut. Kritik boleh, berbeda pendapat juga boleh. Pemerintah boleh tidak setuju dengan analisis seorang pakar, merekapun boleh mengkritik kebijakan pemerintah. Tetapi jangan sampai perbedaan pendapat membuat kita lupa bahwa pengetahuan dan masukan bisa datang dari mana saja. Dari profesor, pengusaha, pedagang pasar, ibu rumah tangga, anak muda, dan dari orang yang setiap hari berjualan sambil belajar bagaimana caranya bertahan.

Jadi, kalau ada yang bertanya siapa orang cerdas di Indonesia, jangan hanya mencari di ruang seminar. Coba sesekali datang ke pasar duduk di sebelah pedagang kecil dan dengarkan ceritanya. Di sana kita mungkin menemukan bahwa untuk menjadi cerdas, seseorang tidak selalu membutuhkan gelar panjang.

Kadang cukup punya keberanian untuk mencoba, kemampuan membaca keadaan, kemauan belajar, dan kegigihan untuk bangkit ketika gagal. Para pelaku UMKM Indonesia sudah melakukan itu setiap hari.

Mereka tidak perlu disebut pakar. Mereka juga tidak perlu membuktikan diri dengan kata-kata, usaha mereka sudah menjadi jawabannya. Indonesia punya banyak orang cerdas yang sedang bekerja pak Presiden!

Article ad after last paragraph

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *