Saturday, 05 September 2026
Hot

Ketidakseimbangan Ekonomi Global: AS Tekan G20 Agar Lebih Fokus pada China

Amerika Serikat mendesak negara-negara G20 untuk mengambil tindakan terhadap kesenjangan perdagangan besar dengan Tiongkok, menyebut distorsi tersebut "menyedot" pertumbuhan global. Pertemuan di Asheville, North Carolina, membahas subsidi dan ekspor Tiongkok.

Article ad before first paragraph

HARIANEXPRESS – Amerika Serikat mendesak negara-negara G20 untuk menghadapi kesenjangan perdagangan yang signifikan dengan Tiongkok pada pertemuan menteri keuangan di Asheville, North Carolina, Selasa (1/9/2026).

Desakan ini disampaikan oleh administrasi Trump, diwakili oleh Menteri Keuangan AS Scott Bessent, yang berpendapat bahwa distorsi perdagangan Tiongkok “menyedot” pertumbuhan dari ekonomi global.

Scott Bessent juga menegaskan bahwa praktik-praktik tersebut merugikan industri dan pasar kerja domestik di banyak negara. Pertemuan dua hari para pemimpin keuangan ini diselenggarakan di tengah gejolak pasar obligasi global akibat kekhawatiran utang yang meningkat dan tekanan inflasi.

Fokus pada Ekonomi Non-Pasar dan Subsidi

Washington menggunakan pertemuan G20 tersebut untuk menekankan perlunya negara-negara lain melindungi industri dan pasar kerja domestik mereka dari impor Tiongkok. Fokus utama pembahasan menteri keuangan adalah Tiongkok.

Article ad in the middle of article

Menteri Keuangan AS Scott Bessent telah memperingatkan negara-negara mitra dagang tahun lalu bahwa tarif AS yang lebih ketat akan menyebabkan membanjirnya barang-barang Tiongkok ke pasar mereka.

“Dan sayangnya, saya benar. Mereka telah – dan seluruh dunia mungkin perlu melihat lebih dekat apa yang harus mereka lakukan untuk melindungi pekerjaan warga negara mereka,” ujar Bessent dalam pertemuan di Asheville.

Bessent juga menyoroti adanya “ekonomi non-pasar” yang besar dan menciptakan ketidakseimbangan. Kondisi ini dinilai “menyedot pertumbuhan dari seluruh dunia,” tambahnya kepada wartawan.

Ekspor Masif Tiongkok dan Kekhawatiran Eropa

Dorongan ekspor besar-besaran dari Tiongkok telah menekan ekonomi di seluruh dunia, terutama setelah Amerika Serikat memberlakukan tarif tinggi pada barang-barang Tiongkok dan melarang beberapa produk seperti kendaraan Tiongkok. Dengan permintaan domestik yang terus lemah, Tiongkok meningkatkan ekspor kendaraan listrik, semikonduktor, dan barang-barang lainnya.

Total ekspornya dilaporkan naik 23.9 persen pada Juli secara tahunan, memicu seruan di Eropa untuk pembatasan impor Tiongkok yang lebih ketat. Menteri Keuangan Polandia Andrzej Domanski menyampaikan kekhawatirannya pada Senin malam.

“Kami tahu bahwa mata uang Tiongkok sangat undervalued, bahwa Tiongkok mendukung, sangat aktif mensubsidi ekspornya dan ini juga menjadi masalah bagi Eropa,” ucap Andrzej Domanski.

Surplus perdagangan barang Tiongkok dengan Uni Eropa mencapai €360.6 miliar (US$418 miliar) tahun lalu, meningkat 15 persen dari 2024. Kondisi ini terus meluas tahun ini karena perusahaan Tiongkok lebih banyak menjual ke Uni Eropa dan mengurangi impor.

Komisioner Ekonomi Eropa Valdis Dombrovskis sepakat bahwa Tiongkok adalah sumber utama ketidakseimbangan ekonomi. Namun, ia menyatakan bahwa AS dan Eropa juga memiliki peran dalam menyeimbangkan situasi tersebut.

Tantangan Komunike Bersama dan Isu Geopolitik Lain

Belum jelas apakah AS akan berhasil menyatukan forum G20 untuk menyepakati komunike bersama mengenai pengurangan ketidakseimbangan global. Tiongkok sebagai anggota G20 menunjukkan sedikit minat terhadap seruan lama untuk mengurangi subsidi industri dan menyeimbangkan ekonominya.

Mata uang yuan Tiongkok juga tetap undervalued secara signifikan berdasarkan sebagian besar ukuran. Beijing juga memanfaatkan dominasinya dalam pemrosesan mineral kritis dengan memberlakukan pembatasan ekspor mineral langka pada April 2025 sebagai respons terhadap tarif Presiden AS Donald Trump, yang turut memukul perusahaan non-AS.

Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama, dalam jumpa pers pada Senin malam setelah hari pertama perundingan, menyatakan kepada rekan-rekan G20-nya bahwa pembatasan ekspor sewenang-wenang terhadap mineral kritis merugikan ekonomi global dan harus ditarik. Pejabat menyebut bagian mengenai ketidakseimbangan global dalam komunike bersama yang direncanakan sangat sulit.

Tiongkok menentang setiap penyebutan “ekonomi non-pasar” atau kata-kata tegas tentang pembatasan pasokan mineral kritis. Sementara itu, negara-negara Eropa juga sangat ingin memasukkan bahasa yang mengkritik perang Rusia melawan Ukraina.

Mereka merasa kecewa karena perwakilan Rusia hadir di forum tersebut untuk pertama kalinya sejak Rusia menginvasi Ukraina pada 2022. Menteri Keuangan Jerman Lars Klingbeil menyatakan bahwa perang AS-Israel-Iran, bersama dengan sengketa tarif AS yang sedang berlangsung, juga merupakan penyebab utama ketidakpastian yang menghambat ekonomi global.

“Ketidakpastian adalah racun bagi pertumbuhan ekonomi,” ujarnya. “Konflik tarif yang dikejar oleh AS, seperti sengketa saat ini dengan Kanada, menghancurkan kepercayaan.”

Implikasi Pasar dan Kebijakan Moneter

Penjualan di pasar obligasi global semakin mendalam pada Selasa, dengan yield obligasi 10 tahun Jepang mencapai 3 persen untuk pertama kalinya sejak 1996. Ini adalah manifestasi terbaru dari kekhawatiran investor tentang inflasi yang didorong energi, potensi pengetatan moneter, dan memburuknya kondisi fiskal.

Pejabat Departemen Keuangan AS menyatakan bahwa Bessent telah menyerukan kebijakan moneter yang sehat untuk menstabilkan ekspektasi inflasi dan menghindari volatilitas mata uang yang berlebihan. Hal ini disampaikannya dalam pertemuan pada Minggu dengan Gubernur Bank of Japan Kazuo Ueda.

“Saya memiliki informasi yang tidak dimiliki pasar, dan keyakinan saya adalah pemerintah Jepang dan BOJ akan melakukan hal-hal yang akan mengarah pada yen yang lebih kuat,” kata Bessen.

Pernyataan tersebut menggarisbawahi seruan Bessent baru-baru ini kepada BOJ untuk menaikkan suku bunga. Hal ini juga dilihat sebagai upaya untuk memperkuat argumen Ueda agar menaikkan suku bunga pada pertemuan kebijakan bank sentral pada 17-18 September.

Article ad after last paragraph