HARIANEXPRESS – Amerika Serikat menjatuhkan sanksi terhadap dua perusahaan maritim Iran yang diduga menggunakan Bitcoin dan aset digital untuk menghindari pembatasan keuangan Barat, Sabtu (1/8/2026).
Dua entitas yang dikenai sanksi adalah Persian Gulf Marine Insurance Company dan HormuzSafe Marine Services Authority. Kedua perusahaan ini dituding menjalankan jaringan asuransi yang didukung Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
Jaringan asuransi tersebut mewajibkan kapal komersial membeli perlindungan sebelum melintasi Selat Hormuz. Polis yang ditawarkan mencakup risiko yang ditimbulkan oleh Iran sendiri, seperti penyitaan kapal dan gangguan angkatan laut IRGC.
Sistem pembayaran polis asuransi tersebut dirancang agar dapat menggunakan aset digital. Dengan cara ini, entitas Iran disebut bisa memperoleh pendapatan tanpa bergantung pada saluran perbankan tradisional yang menjadi target sanksi AS.
HormuzSafe, yang dikembangkan oleh Kementerian Ekonomi Iran, secara spesifik menerima pembayaran menggunakan Bitcoin dan aset digital lainnya. Langkah ini menjadi bagian dari upaya Iran untuk menghindari sanksi Barat yang diberlakukan.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyampaikan pernyataan keras mengenai kebijakan tersebut. “Perekonomian Iran sedang terjun bebas, inflasi berada di level tiga digit, dan rezim tersebut sangat membutuhkan uang. AS tidak akan membiarkan Iran menyandera perdagangan global atau menggunakan pelayaran internasional untuk mendanai terorisme,” ujar Scott Bessent.
Selain dua perusahaan tersebut, Office of Foreign Assets Control (OFAC) juga mengidentifikasi delapan kapal sebagai aset yang diblokir. Sanksi juga dijatuhkan kepada delapan perusahaan yang dikaitkan dengan “armada bayangan” Iran.
Departemen Keuangan AS menyebut langkah ini bertujuan membatasi upaya menyamarkan kepemilikan kapal. Tindakan tersebut juga ditujukan untuk menekan pendapatan yang berasal dari aktivitas maritim Iran.
Dengan tambahan delapan kapal ini, jumlah kapal terkait armada bayangan Iran yang telah disanksi sejak awal 2026 mencapai lebih dari 100 unit. Sanksi ini membekukan aset milik entitas yang masuk daftar apabila berada di AS.
Pemerintah AS melaporkan bahwa Iran menggunakan kombinasi mata uang konvensional seperti yuan China, stablecoin Tether USDt (USDT), dan Bitcoin dalam pembayaran terkait aktivitas maritim. Penggunaan aset digital memungkinkan transaksi dilakukan di luar saluran perbankan tradisional.
Meskipun demikian, otoritas AS menyatakan belum ada bukti on-chain yang menunjukkan pembayaran Bitcoin melalui platform yang diusulkan benar-benar telah diselesaikan. Ini berarti informasi dalam laporan belum membuktikan adanya transaksi Bitcoin yang berhasil dilakukan melalui skema tersebut.
Pentingnya Selat Hormuz bagi perdagangan dunia turut menjadi perhatian dalam pemberian sanksi tersebut. Jalur perairan ini dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak global, sehingga pengendalian terhadap lalu lintas kapal di kawasan itu memiliki nilai strategis yang besar.

