HARIANEXPRESS, JAKARTA – COO Danantara Dony Oskaria mengakui ancaman delisting saham PT Waskita Karya (WSKT) dan PT Wijaya Karya (WIKA) merupakan risiko dari proses restrukturisasi BUMN Karya untuk memperbaiki fundamental perusahaan, Rabu (19/8/2026).
Dony Oskaria menjelaskan bahwa Danantara tengah menuntaskan beragam persoalan yang selama ini ada di BUMN Karya. Masalah utama terletak pada besarnya liabilitas atau utang, serta menjalar ke anak hingga cucu perusahaan.
Ia menambahkan, masing-masing BUMN Karya memiliki lebih dari 20 anak perusahaan yang juga bermasalah. Proses penyelesaian ini membutuhkan waktu yang panjang karena harus membereskan satu per satu persoalan yang ada.
Dony menekankan pentingnya membereskan fundamental perusahaan secara nyata agar BUMN Karya sehat dan tidak hanya terlihat baik di permukaan. Ia menyampaikan, jika saham bertahan di bursa dengan kondisi fundamental yang buruk, investor akan dirugikan.
Saham PT Waskita Karya (WSKT) telah disuspensi oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak 8 Mei 2023. Sesuai Peraturan Bursa Nomor I-N, BEI dapat melakukan delisting terhadap emiten yang mengalami suspensi perdagangan selama minimal 24 bulan berturut-turut.
“Pertama bahwa liabilitasnya besar-besar. Utangnya besar-besar. Yang kedua, masalahnya ini tidak hanya di level holding. Tetapi dia punya anak-anak perusahaan yang juga bermasalah,” ujar Dony Oskaria (COO Danantara dan Kepala BP BUMN) di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (18/8/2026) kepada detikFinance.
“Bisa bayangkan masing-masing punya anak perusahaan lebih dari 20. Jadi dengan begini sebetulnya bisa membayangkan seperti apa kita bekerja menyelesaikan satu per satu. Di masing-masing karya itu punya anak lagi kan. Ada cucu. Semuanya bermasalah juga. Jadi kita mesti bereskan itu one by one, satu per satu, satu per satu. Inilah yang memakan waktu,” sambungnya kepada detikFinance.
“Buat saya yang paling penting itu dari fundamentalnya real. Kalau kita lakukan secara fundamental tidak baik tetap di bursa, juga akan kasihan juga pada investornya,” ujar Dony di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (18/8/2026) kepada Kompas.com.
“Jadi yang paling penting itu adalah membereskan fundamental perusahaan. Masalah nanti dia akan tetap di bursa atau tidak, itu akan kita lihat bagian dari penyelesaian ini,” tambahnya kepada Kompas.com.
“Apa risiko yang diikutinya? Itu tentu kita kaji. Apakah nanti dia delisting, atau apa, itu part of the process, transformasi yang harus kita hadapi. Tetapi yang paling penting itu, perusahaan ini tidak lagi hanya sekadar cover-nya yang baik. Kita ingin secara fundamentalnya memang baik,” ujarnya seperti dikutip Suara.com, Rabu (19/8/2026).
Dony menjelaskan bahwa Danantara bisa saja mengambil langkah cepat seperti merger atau mempailitkan perusahaan untuk menyelesaikan masalah BUMN Karya. Namun, ia memilih pendekatan hati-hati karena mempertimbangkan dampak luas terhadap ekosistem lain.
Total utang perusahaan-perusahaan karya mencapai ratusan triliun rupiah, yang menurut Dony harus dibereskan secara perlahan. Ia menargetkan restrukturisasi bisa selesai pada akhir tahun 2026, meskipun dinamika penyelesaiannya cukup rumit dan belum bisa dipastikan.
Upaya penyehatan ini bertujuan untuk memperkuat fundamental bisnis secara nyata dan mengembalikan kepercayaan para pemegang saham. Dony tidak ingin perbaikan yang dilakukan hanya bersifat sementara, melainkan perusahaan harus sehat secara fundamental untuk jangka panjang.