Monday, 07 September 2026
Hot

BNPB Gelar Modifikasi Cuaca untuk Tangani Sebaran Abu Anak Krakatau

BNPB melancarkan operasi modifikasi cuaca pada Minggu untuk mengatasi dampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Dua metode disiapkan: pemicu hujan dan kabut air. Erupsi Anak Krakatau berlangsung 25 jam sebelum berakhir.

Article ad before first paragraph

HARIANEXPRESS, JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah memulai operasi modifikasi cuaca pada Minggu untuk menangani sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau, Minggu (6/9/2026).

Langkah ini diambil guna mengurangi dampak abu yang tersebar di beberapa wilayah dan membersihkan udara dari partikel berbahaya.

Operasi Modifikasi Cuaca Dilaksanakan

Kepala BNPB, Suharyanto, menyampaikan bahwa operasi modifikasi cuaca akan berlangsung hingga malam hari. Persiapan operasi ini meliputi penyiapan pesawat di Pondok Cabe.

“Today we are implementing weather modification. The aircraft is ready in Pondok Cabe and we will implement the operation until the evening,” ujar Suharyanto dalam konferensi pers pada Minggu.

Article ad in the middle of article

Menurut Suharyanto, ada dua teknik modifikasi cuaca yang telah disiapkan. Opsi pertama adalah peningkatan hujan yang akan diaktifkan jika kondisi awan memungkinkan.

Dua Teknik Modifikasi Cuaca Disiapkan

Tujuan utama dari teknik pemicu hujan adalah untuk menginduksi turunnya air hujan secara alami. Hujan yang memadai diharapkan dapat dengan cepat membersihkan abu vulkanik yang telah tersebar di udara.

“The aim is to induce rain. If sufficient rain falls, the volcanic ash can quickly be washed away,” jelasnya.

Sementara itu, teknik kedua akan diterapkan ketika tidak ada awan hujan yang tersedia di wilayah terdampak. Metode ini melibatkan penggunaan kabut air untuk membantu menyebarkan dan mengurangi konsentrasi abu berbahaya.

“In Jakarta, Banten, and Lampung, we have agreed with the Meteorology, Climatology, and Geophysics Agency (BMKG) to use the water mist method to disperse hazardous ash in the absence of rain clouds,” lanjut Suharyanto.

Kondisi Terkini Gunung Anak Krakatau

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memastikan untuk terus memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. Pemantauan ini dilakukan setelah gunung tersebut mengalami erupsi secara terus-menerus selama 25 jam.

Dalam pernyataan yang dikeluarkan pada Minggu, PVMBG menginformasikan bahwa episode erupsi tersebut telah berakhir. Meskipun demikian, tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berada di Level III, atau Siaga.

Episode gempa erupsi terus-menerus dimulai pada Jumat, 4 September 2026, pukul 11:07 malam waktu setempat. Peristiwa tersebut kemudian berakhir pada Minggu, 6 September 2026, pukul 12:04 pagi waktu setempat.

Meskipun erupsi berkelanjutan telah selesai, Gunung Anak Krakatau tetap menunjukkan aktivitas yang signifikan. Potensi risiko erupsi lebih lanjut yang bisa menyebabkan lontaran batu pijar, hujan abu lebat, dan aliran lava masih tergolong tinggi.

Antisipasi dan Koordinasi di Daerah Terdampak

Suharyanto menerangkan bahwa hingga saat ini, belum ada pemerintah daerah atau provinsi di Banten dan Lampung yang mengumumkan status keadaan darurat. Namun, BNPB telah sigap mengirimkan tim ke kedua wilayah tersebut.

Tim yang dikirim bertugas untuk memantau langsung situasi di lapangan terkait erupsi Gunung Anak Krakatau dan dampaknya pada masyarakat. Selain itu, BNPB juga akan memeriksa ketersediaan logistik pangan di gudang-gudang penyimpanan milik pemerintah kabupaten dan provinsi yang relevan.

Article ad after last paragraph