HARIAN EXPRESS, BOGOR – Federasi Komunikasi Pembangunan Indonesia menggelar International Conference on Development Communication 2026 di IPB University, Bogor, Selasa (8/9/2026).
International Conference on Development Communication (ICDC) 2026 resmi bergulir secara hibrida di Auditorium Andi Hakim Nasution, IPB University, Dramaga, Bogor. Forum akbar ini mendorong komunikasi pembangunan agar tidak berhenti pada penyampaian informasi semata, melainkan memberikan ruang seluas-luasnya bagi masyarakat untuk ikut membentuk pengetahuan dan keputusan.
Konferensi tingkat internasional ini menghadirkan sedikitnya 15 pembicara pleno dan 100 makalah dari para peneliti serta praktisi. Para peserta mewakili 50 perguruan tinggi, organisasi nonpemerintah, dan lembaga pemerintah dari berbagai negara. Penyelenggaraan ICDC 2026 merupakan hasil kolaborasi antara Federasi Komunikasi Pembangunan Indonesia (FORKAPI) dan Association of Development Communication Educators and Practitioners (ADCEP) Philippines, berkolaborasi dengan IPB University serta Universitas Pakuan.
Saat menyambut para peserta konferensi, Dewan Pakar FORKAPI sekaligus akademisi komunikasi pembangunan IPB University, Dr. Djuara P. Lubis, menekankan bahwa pembangunan yang efektif membutuhkan dialog terbuka. Dialog tersebut harus memungkinkan masyarakat menyuarakan pengalaman mereka sendiri, menegosiasikan pengetahuan, memengaruhi keputusan, dan mengambil tindakan bersama.
“Tantangannya bukan sekadar mentransfer pengetahuan kepada masyarakat, melainkan menciptakan proses agar berbagai bentuk pengetahuan dapat bertemu, berkomunikasi, bernegosiasi, dan menghasilkan pengetahuan baru secara bersama,” ujar alumni University of the Philippines Los Baños (UPLB) tersebut.
Lebih lanjut, Dr. Djuara secara tegas mengajak seluruh pihak yang berkontribusi dalam bidang komunikasi pembangunan untuk mengubah orientasi kerja mereka.
“Mari bergerak dari transmisi menuju dialog, dari persuasi menuju partisipasi, dari transfer pengetahuan menuju penciptaan pengetahuan bersama, dan dari pembangunan untuk masyarakat menuju pembangunan bersama masyarakat,” tegasnya.
Pembukaan resmi ICDC 2026 dilakukan secara langsung oleh Rektor IPB University, Prof. Dr. Alim Setiawan Slamet, S.T.P., M.Si. Acara kemudian dilanjutkan dengan penyampaian pidato kunci oleh Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Arif Satria. Dalam pidatonya, Prof. Arif menyoroti urgensi menjembatani pengetahuan dan praktik demi mewujudkan kesejahteraan yang berkelanjutan serta inklusif.
Pelaksanaan konferensi sempat menghadapi tantangan tak terduga akibat erupsi Gunung Anak Krakatau yang mengganggu jalur penerbangan menuju Jakarta. Berdasarkan data panitia, sekitar 100 peserta terhalang untuk hadir secara langsung di lokasi. Sebagai langkah responsif, pihak penyelenggara memperluas akses daring agar seluruh peserta tetap dapat mengikuti rangkaian konferensi tanpa hambatan berarti.
Rangkaian acara mendiskusikan berbagai persoalan krusial yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat melalui tiga sesi panel pleno utama. Topik yang dibahas meliputi:
- Adaptasi petani terhadap perubahan iklim
- Pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) perempuan
- Keadilan dalam pemanfaatan teknologi
- Masa depan media publik
- Perkembangan teori serta metodologi komunikasi pembangunan
Said Abdullah, M.Si. dari Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) memaparkan bahwa persoalan adaptasi petani terhadap perubahan iklim tidak bisa diselesaikan hanya dengan kekurangan informasi.
“Riset aksi bersama 15 petani di Darim, Indramayu, memperlihatkan bahwa dialog partisipatif dapat melahirkan sekolah lapang pertanian ramah iklim, warung informasi iklim, dan keterlibatan perempuan yang lebih kuat dalam pengambilan keputusan komunitas,” ujar Said Abdullah.
Kandidat Ph.D sekaligus Peneliti di University of Reading, Inggris, Aria Widyanto, M.Sc., yang juga menjabat sebagai President Commissioner at Amartha, menegaskan bahwa permodalan bukanlah tujuan akhir bagi UMKM perempuan.
“Pertumbuhan usaha juga membutuhkan proses mendengarkan pengalaman pelaku usaha, memvalidasi kebutuhan, serta merancang dan menguji solusi bersama mereka,” tutur Aria Widyanto.
Pandangan tersebut diperkuat oleh Prof. Sarah Cardey dari University of Reading, Inggris. Ia mengingatkan bahwa teknologi dan inovasi tidak pernah sepenuhnya netral gender. Oleh karena itu, strategi komunikasi harus mampu memahami teknologi dalam sosial, mengakui pengetahuan lokal, melibatkan tokoh yang dipercaya, serta memperkuat jaringan komunitas. Adopsi inovasi dipahami secara tepat sebagai proses adaptasi alih-alih sekadar persuasi.
Dari perspektif media publik, Direktur Teknik Lembaga Penyiaran Publik Televisi Republik Indonesia (LPP TVRI), Bernardus Satriyo Dharmanto, M.Sc., menyoroti pentingnya menjaga aksesibilitas, kepercayaan publik, serta kapasitas masyarakat untuk bertindak nyata.
“Pemanfaatan kecerdasan artifisial dalam produksi media harus tetap berada di bawah peninjauan dan pertanggungjawaban editorial manusia,” tuturnya.
Selain aspek praktis, konferensi ini juga mengevaluasi perkembangan akademik melalui transformasi kurikulum Komunikasi Pembangunan IPB University dari kurikulum K2020 menuju K2025, serta kajian mendalam terhadap 110 disertasi. Temuan riset menunjukkan adanya pergeseran fokus kajian dari pendekatan berbasis sektor semata menuju persoalan pembangunan yang jauh lebih kompleks, mencakup aspek komunikasi digital, jejaring sosial, kuasa, risiko, hingga partisipasi publik.
ICDC 2026 mengusung tema besar “Development Communication: Bridging Knowledge and Practice for Sustainable and Inclusive Well-Being in Disruptive Era”. Seluruh rangkaian kegiatan konferensi internasional ini dijadwalkan berlangsung selama dua hari penuh pada tanggal 8–9 September 2026.


