Tuesday, 08 September 2026
Hot

Kemenkes Perkuat Tim Medis Darurat dan Layanan IGD

Kementerian Kesehatan memperkuat standardisasi EMT dan mereformasi pengelolaan IGD rumah sakit guna mengoptimalkan kesiapsiagaan darurat bencana.

Article ad before first paragraph

HARIANEXPRESS, JAKARTA – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia memperkuat standardisasi Tim Medis Darurat (EMT) dan mereformasi pengelolaan instalasi gawat darurat (IGD) rumah sakit demi meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana alam serta kedaruratan medis, Selasa (8/8/2026).

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan pada hari Selasa bahwa langkah penguatan tersebut selaras dengan kondisi Indonesia sebagai negara dengan jumlah catatan bencana tertinggi kedua di dunia.

“Hence, we should have EMTs with WHO standards, from level 1 to level 2, distributed equally in regions and integrated with the accreditation criteria for regional public hospitals on every island,” ujar Budi Gunadi Sadikin.

Kementerian Kesehatan mencatat sedikitnya ada 52 krisis kesehatan yang dipicu bencana alam hingga September 2026. Menghadapi situasi tersebut, pihak kementerian telah menyiagakan sebanyak 38.418 tenaga kesehatan cadangan di tingkat nasional.

Article ad in the middle of article

Fasilitasi sertifikasi EMT berstandar WHO terus dilanjutkan oleh kementerian, sebagaimana capaian yang telah diraih oleh Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC). Selain penguatan tim lapangan, tata kelola IGD rumah sakit juga dibenahi agar pasien gawat darurat memperoleh tindakan intensif tanpa hambatan birokrasi internal.

Pembenahan manajemen IGD mencakup perubahan pelatihan residensi gawat darurat, sentralisasi pengelolaan tempat tidur, penyediaan peralatan medis dasar, dan revisi sistem diagnosis-related group (DRG) pada BPJS Kesehatan. Seluruh pembaruan fasilitas ini ditujukan untuk mempermudah operasional tenaga medis serta mempercepat layanan.

“We aim to reduce emergency patients’ waiting times as much as possible,” ujar Budi Gunadi Sadikin.

Langkah pembenahan tersebut memperoleh respons positif dari Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Emergensi Indonesia (PDEI) Wishnu Pramudito. Ia menilai pembaruan tata kelola instalasi gawat darurat mencerminkan kemajuan penting dalam sektor pelayanan medis di Tanah Air.

“We target our emergency department services to be on par with hospitals in major cities, such as New York or London, in 10 years,” ujar Wishnu Pramudito.

Wishnu Pramudito menekankan perlunya mengatasi kekurangan dokter spesialis emergensi yang saat ini baru berjumlah 66 orang, jauh dari kebutuhan ideal sebanyak 1.034 orang. Ia juga menggarisbawahi pentingnya edukasi pertolongan pertama bagi publik dan lingkungan sekolah untuk menyelamatkan pasien pada menit-menit awal kejadian.

Article ad after last paragraph