Pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya, apa yang terjadi ketika kita terlalu percaya pada apa yang bisa dihitung, tetapi lupa mendengar apa yang dirasakan? Beberapa waktu lalu, saya berbincang dengan seorang teman tentang pekerjaannya, kebetulan beliau 2 tahun lagi akan pensiun. Ia bercerita bahwa targetnya tercapai, penjualannya meningkat, dan atasannya memberikan apresiasi.
“Kalau melihat laporan, saya sukses,” katanya.
Lalu ia terdiam sebentar.
“Tapi kalau ditanya bahagia atau tidak, saya malah bingung. Apalagi beberapa tahun kedepan saya bakal masuk masa pensiun”
Saya tersenyum. Bukan karena ceritanya lucu, tetapi karena kalimat itu terasa dekat dengan kehidupan kita. Bukankah kita sering melakukan hal yang sama? Kita hidup di zaman ketika hampir semuanya ingin diukur. Kemiskinan diukur dengan angka. Pendidikan diukur dengan nilai. Kinerja diukur dengan target. Bisnis diukur dari omzet. Bahkan popularitas seseorang bisa dilihat dari jumlah pengikut, likes, komentar, dan views.
Angka ada di mana-mana dan kita menyukainya karena angka terasa meyakinkan. Ia terlihat objektif, rapi, dan mudah dibandingkan. Masalahnya, kehidupan manusia tidak selalu serapi angka. Seorang mahasiswa mungkin mendapatkan nilai tinggi, tetapi kita tidak tahu berapa malam yang ia habiskan untuk belajar sambil menghadapi persoalan keluarga.
Seorang pedagang mungkin mengalami penurunan omzet. Dalam laporan, itu berarti kinerja usahanya menurun. Tetapi angka tersebut tidak bercerita bahwa ia tetap membuka warung setiap pagi karena dari sanalah anaknya bisa bersekolah. Begitu pula seorang penyandang disabilitas yang membangun usaha kecil. Mungkin omzetnya belum besar, jumlah pelanggannya pun tidak banyak, tetapi bisa jadi usaha itu adalah cara baginya untuk mengatakan kepada dunia, “Saya mampu berdiri dengan kemampuan saya sendiri.”
Kalimat seperti itu tentu tidak mudah dimasukkan ke dalam tabel. Tidak ada kolom rasa percaya diri. Tidak ada grafik harga diri yang tumbuh. Tidak ada indikator sederhana untuk mengukur perasaan seseorang ketika hasil kerja kerasnya membuat ia merasa berguna bagi keluarganya.
Di sinilah saya mulai berpikir, jangan-jangan kita terlalu sibuk mengukur, sampai lupa mendengar. Kita tahu berapa banyak orang yang menerima bantuan sosial. Tetapi apakah kita tahu bagaimana perasaan mereka ketika harus berulang kali mengantre? Kita tahu angka pengangguran. Tetapi apakah kita pernah mendengar cerita seorang ayah yang setiap pagi tetap keluar rumah mencari pekerjaan meskipun berkali-kali ditolak? Kita tahu jumlah UMKM yang tumbuh, tetapi apakah kita pernah duduk bersama pemiliknya dan bertanya, “Apa yang paling sulit selama menjalankan usaha ini?”
Pertanyaan sederhana seperti itu terkadang membuka cerita yang tidak pernah muncul dalam laporan. Data memang penting, tetapi data tidak seharusnya menggantikan manusia. Angka memberi tahu kita berapa banyak. Cerita membantu kita memahami mengapa. Data dapat menunjukkan bahwa sebuah program berhasil. Tetapi suara penerima manfaat membantu kita mengetahui apakah program itu benar-benar dirasakan manfaatnya.
Karenanya, mungkin kita tidak perlu memilih antara data dan cerita. Kita membutuhkan keduanya. Data membantu kita melihat gambaran besar. Mendengar membantu kita memahami manusia yang berada di dalam gambaran tersebut. Sayangnya, kita sering terlalu cepat menyimpulkan. Begitu melihat angka, kita merasa sudah memahami masalah. Begitu membaca hasil survei, kita merasa sudah mengetahui apa yang dipikirkan masyarakat.
Padahal, mungkin kita hanya perlu melakukan satu hal sederhana, kembali bertanya dan mendengarkan. Duduk bersama pedagang di warungnya, berbicara dengan mahasiswa setelah kelas, mendengar keluhan warga, menanyakan pengalaman pekerja, memberi kesempatan kepada seseorang menyelesaikan ceritanya tanpa buru-buru menyela.
Dari sana kita mungkin menemukan sesuatu yang tidak tertangkap oleh survei. Sebab orang yang mengalami masalah sering kali memiliki pengetahuan paling dekat tentang masalah tersebut. Mereka tahu apa yang tidak terlihat dari ruang rapat. Mereka tahu mengapa sebuah kebijakan terasa membantu atau justru menyulitkan. Mereka tahu mengapa sebuah program berjalan baik di atas kertas, tetapi belum tentu sama ketika sampai di lapangan.
Maka, setelah menghitung barangkali kita perlu belajar mendengar. Sebab setiap angka memiliki manusia di belakangnya, dan setiap manusia memiliki cerita yang tidak selalu bisa dimasukkan ke dalam angka. Di tengah dunia yang semakin pandai menghitung, mungkin kemampuan untuk benar-benar mendengarkan justru menjadi kecerdasan yang semakin berharga.
Dan sebelum kita kembali bertanya, “Berapa hasilnya?”. Mungkin ada baiknya kita bertanya lebih dulu, “Bagaimana rasanya menjalaninya?”. Manusia bukan sekadar objek data, mereka adalah pemilik cerita di balik data. Maka setelah menghitung, barangkali kita perlu belajar mendengar.
Kebijakan yang baik bukan hanya lahir dari angka yang benar, tetapi juga dari kemampuan memahami manusia yang hidup di balik angka tersebut. Dan mungkin di tengah dunia yang semakin pandai menghitung, kemampuan untuk benar-benar mendengar justru menjadi bentuk kecerdasan yang semakin langka.


