ENGLISHEN
Home Hankam TNI Menjaga Nadi Danau Tondano, Melawan Eceng Gondok demi Kehidupan Warga

TNI Menjaga Nadi Danau Tondano, Melawan Eceng Gondok demi Kehidupan Warga

TNI AD memimpin aksi bersama untuk menyelamatkan Danau Tondano dari eceng gondok, sedimentasi, dan kerusakan lingkungan demi masyarakat Minahasa kini.

TNI Menjaga Nadi Danau Tondano, Melawan Eceng Gondok demi Kehidupan Warga
Share

HARIANEXPRESS, MINAHASA – Di Sulawesi Utara, pengabdian prajurit tidak berhenti pada tugas pertahanan. TNI Angkatan Darat turun langsung membersihkan Danau Tondano, membuka kembali jalur air, dan menggerakkan kolaborasi untuk menyelamatkan sumber kehidupan masyarakat.

Hamparan hijau terlihat menutup sebagian permukaan Danau Tondano. Dari kejauhan, hamparan itu sekilas menyerupai daratan. Namun, lapisan tersebut sebenarnya merupakan kumpulan eceng gondok yang tumbuh cepat dan menguasai badan danau.

Di antara kepungan gulma air itu, prajurit TNI Angkatan Darat bergerak. Mereka bekerja di atas perahu dan ponton, mengangkat eceng gondok yang menumpuk, lalu memindahkannya dari badan danau. Pekerjaan tersebut menuntut tenaga, ketekunan, dan waktu yang tidak singkat.

Kegiatan itu menjadi bagian dari upaya konservasi Danau Tondano di Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Melalui tayangan bertajuk “Konservasi Danau Tondano, Provinsi Sulawesi Utara”, TNI AD memperlihatkan keterlibatan prajurit dalam menjaga salah satu sumber daya air terpenting di wilayah tersebut.

Kehadiran TNI di Danau Tondano bukan sekadar kegiatan pembersihan lingkungan. Di balik gulma yang diangkat, terdapat upaya mempertahankan sumber air, energi, pangan, dan penghidupan ribuan warga.

Danau yang Menopang Kehidupan

Danau Tondano merupakan danau vulkanik sekaligus danau air tawar terbesar di Sulawesi Utara. Data pemerintah mencatat luasnya sekitar 4.616 hektare dengan volume air sekitar 668,57 juta meter kubik. Perbedaan angka luas dalam sejumlah dokumen muncul karena perubahan garis badan air, metode pengukuran, sedimentasi, dan dinamika pemanfaatan kawasan danau.

Bagi masyarakat Minahasa, Danau Tondano bukan hanya bentang alam. Airnya mendukung kebutuhan rumah tangga, pertanian, perikanan air tawar, pariwisata, dan produksi energi listrik.

Aliran air Danau Tondano menjadi bagian penting dari sistem sumber daya air di Sulawesi Utara. Danau tersebut menyuplai air bagi kegiatan pertanian dan mendukung pembangkit listrik tenaga air. Di sekelilingnya, masyarakat menggantungkan pendapatan dari perikanan, usaha kuliner, pertanian, dan aktivitas wisata.

Ketika kondisi danau memburuk, dampaknya tidak berhenti pada lingkungan. Pendangkalan dapat mengurangi kapasitas tampungan air. Eceng gondok dapat menghambat pergerakan perahu. Penurunan kualitas air dapat memengaruhi ikan, pertanian, dan kesehatan ekosistem.

Karena itu, menjaga Danau Tondano sama dengan menjaga keberlanjutan kehidupan masyarakat di sekitarnya.

Ancaman yang Tumbuh Perlahan

Persoalan Danau Tondano terbentuk dalam waktu panjang. Sedimentasi dari daerah hulu terus membawa material tanah menuju badan danau. Erosi, perubahan penggunaan lahan, aktivitas pertanian, limbah domestik, dan pemanfaatan kawasan sempadan ikut meningkatkan tekanan terhadap ekosistem.

Laporan Balai Wilayah Sungai Sulawesi I mencatat Danau Tondano menghadapi sedimentasi dan pertumbuhan eceng gondok. Penumpukan sedimen mempercepat pendangkalan, sedangkan pertumbuhan gulma mempersempit ruang terbuka di permukaan air.

Eceng gondok sebenarnya memiliki kemampuan menyerap unsur tertentu dalam air. Namun, pertumbuhan yang tidak terkendali dapat menimbulkan persoalan baru.

Tumbuhan ini berkembang cepat ketika perairan menerima nutrisi berlebih, terutama nitrogen dan fosfor. Sisa pupuk pertanian, limbah rumah tangga, dan bahan organik dari aktivitas budidaya ikan dapat memperkaya nutrisi air. Kondisi tersebut memicu eutrofikasi dan mempercepat perkembangan gulma air. Kajian limnologi juga menempatkan eutrofikasi, pendangkalan, kerusakan daerah tangkapan air, dan invasi eceng gondok sebagai masalah utama Danau Tondano.

Ketika eceng gondok menutup permukaan danau, sinar matahari sulit masuk ke kolom air. Sirkulasi air terganggu. Kandungan oksigen dapat menurun. Pergerakan nelayan juga semakin terbatas.

Masalah itu terlihat sederhana karena berawal dari tumbuhan air. Namun, dampaknya menjalar ke banyak sektor.

Prajurit Turun ke Titik Persoalan

Di tengah ancaman tersebut, TNI AD mengambil peran lapangan. Kodam XIII/Merdeka terlibat dalam kegiatan konservasi bersama pemerintah daerah, Balai Wilayah Sungai Sulawesi I, dan unsur masyarakat.

Prajurit membantu mengangkat eceng gondok dari badan danau. Mereka mendukung pengoperasian peralatan, perahu, ponton, dan sarana pembersihan. Di sejumlah area, pekerjaan harus dilakukan secara bertahap karena akar dan batang gulma telah membentuk lapisan padat.

Keterlibatan TNI memberikan tambahan kekuatan personel dan kemampuan organisasi. Pembersihan danau membutuhkan pembagian wilayah kerja, pengoperasian alat, pengangkutan hasil pembersihan, serta koordinasi antarlembaga. Tanpa pengaturan yang konsisten, eceng gondok dapat kembali tumbuh di area yang telah dibersihkan.

TNI AD memandang revitalisasi Danau Tondano sebagai langkah yang berhubungan langsung dengan kebutuhan masyarakat. Selain menjaga ekosistem, pemulihan danau dapat mendukung kegiatan ekonomi, perikanan, dan pariwisata di kawasan Tondano.

Di titik ini, peran prajurit melampaui pekerjaan fisik. Kehadiran mereka ikut membangun kesadaran bahwa penyelamatan danau memerlukan tindakan bersama.

TNI tidak bekerja sendirian. Pemerintah menyediakan kebijakan dan infrastruktur. Balai wilayah sungai menangani aspek teknis sumber daya air. Akademisi melakukan penelitian. Masyarakat menjaga hasil pemulihan. TNI memperkuat pelaksanaan di lapangan.

Kolaborasi tersebut menjadi kunci karena persoalan Danau Tondano tidak dapat diselesaikan melalui satu kegiatan seremonial.

Menjalankan Amanat Penyelamatan Danau Nasional

Pemerintah telah menetapkan Danau Tondano sebagai salah satu dari 15 Danau Prioritas Nasional melalui Peraturan Presiden Nomor 60 Tahun 2021 tentang Penyelamatan Danau Prioritas Nasional.

Penetapan tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap Danau Tondano telah menyentuh dimensi ekologi, ekonomi, dan sosial. Peraturan itu menempatkan kerusakan daerah tangkapan air, kerusakan sempadan, pengurangan luas dan volume danau, sedimentasi, penurunan kualitas air, serta hilangnya keanekaragaman hayati sebagai persoalan yang harus ditangani secara terpadu.

Perpres tersebut juga menegaskan pentingnya koordinasi antara kementerian, lembaga, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan. Dengan kerangka itu, keterlibatan TNI dalam konservasi Danau Tondano memiliki posisi strategis sebagai bagian dari kerja lintas sektor.

Pembersihan eceng gondok memang menjadi tindakan yang paling terlihat. Namun, penyelamatan danau membutuhkan langkah yang lebih luas.

Pemerintah perlu mengendalikan sedimentasi dari hulu. Batas sempadan harus dijaga. Limbah domestik perlu dikelola. Penggunaan pupuk harus lebih terkendali. Jumlah dan tata kelola keramba jaring apung perlu disesuaikan dengan daya dukung danau.

Tanpa pembenahan dari hulu hingga badan air, gulma akan terus kembali.

Dari Gulma Menjadi Nilai Ekonomi

Eceng gondok yang telah diangkat juga tidak harus berakhir sebagai sampah. Tumbuhan ini dapat diolah menjadi bahan kerajinan, kompos, media tanam, atau bahan pendukung pakan ternak setelah melalui proses yang aman.

Pemanfaatan tersebut dapat membuka peluang ekonomi bagi warga sekitar. Namun, pengolahannya perlu didukung dengan pelatihan, teknologi, standar keamanan, dan akses pasar.

Pendekatan ini penting agar kegiatan konservasi tidak hanya mengeluarkan gulma dari danau. Program pemulihan juga perlu menciptakan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.

TNI dapat mengambil peran sebagai penghubung dan penggerak. Jaringan satuan teritorial memungkinkan prajurit berkomunikasi langsung dengan pemerintah desa, kelompok masyarakat, petani, nelayan, dan pelaku usaha lokal.

Ketika warga dilibatkan, pemulihan danau tidak lagi dipandang sebagai proyek pemerintah. Kegiatan itu berubah menjadi gerakan bersama untuk menjaga sumber kehidupan.

Menjaga Danau Setelah Pembersihan

Pembersihan eceng gondok memberikan hasil yang langsung terlihat. Permukaan air kembali terbuka. Perahu dapat bergerak. Nelayan dapat menjangkau area yang sebelumnya tertutup.

Namun, keberhasilan konservasi tidak cukup dinilai dari luas area yang telah dibersihkan.

Hasil jangka panjang bergantung pada kemampuan semua pihak mencegah gulma tumbuh kembali. Pemantauan kualitas air harus berjalan. Sedimentasi perlu dikendalikan. Aktivitas di sempadan harus ditata. Pencemaran dari permukiman, pertanian, dan budidaya ikan perlu dikurangi.

Karena itu, konsistensi menjadi bagian terpenting dari penyelamatan Danau Tondano.

TNI telah menunjukkan bahwa pengabdian kepada negara dapat dilakukan melalui banyak medan. Tidak selalu di perbatasan. Tidak selalu dalam operasi militer. Di Danau Tondano, pengabdian itu hadir melalui tangan-tangan prajurit yang mengangkat gulma dari permukaan air.

Setiap jalur air yang kembali terbuka memberi ruang bagi nelayan untuk bekerja. Setiap bagian danau yang dibersihkan membantu memulihkan ekosistem. Setiap kolaborasi yang dibangun memperkuat harapan agar Danau Tondano tetap hidup.

Di tengah tekanan lingkungan yang terus meningkat, kehadiran TNI membawa pesan yang tegas: menjaga wilayah Indonesia juga berarti menjaga air, tanah, dan sumber kehidupan rakyat.

Danau Tondano belum sepenuhnya pulih. Perjalanan konservasinya masih panjang. Namun, langkah para prajurit di atas air menunjukkan bahwa penyelamatan telah bergerak dari rencana menuju tindakan nyata.

Share
Related Articles
3 Anggota Polda Jabar Diproses Etik, Satpam Korban Pindah Kerja
HankamSorotan

3 Anggota Polda Jabar Diproses Etik, Satpam Korban Pindah Kerja

Tiga anggota Polda Jabar yang mengintimidasi satpam Bundaran HI kini menjalani sidang...

7 Standar Baru Pengamanan Objek Vital Nasional dan Proyek Infrastruktur Publik di Berbagai Daerah
Hankam

7 Standar Baru Pengamanan Objek Vital Nasional dan Proyek Infrastruktur Publik di Berbagai Daerah

Ketahui 7 standar baru pengamanan Objek Vital Nasional (Obvitnas) dan infrastruktur publik...

10 Titik Rawan Penyelundupan di Jalur Perbatasan yang Kini Dijaga Ketat oleh Pasukan Khusus
HankamNasional

10 Titik Rawan Penyelundupan di Jalur Perbatasan yang Kini Dijaga Ketat oleh Pasukan Khusus

Pemerintah mengidentifikasi 10 wilayah prioritas rawan penyelundupan narkotika dan barang ilegal di...

5 Alasan Mengapa Modernisasi Sistem Pertahanan Siber Nasional Jadi Prioritas Utama Pertahanan Tahun Ini
HankamTeknologi

5 Alasan Mengapa Modernisasi Sistem Pertahanan Siber Nasional Jadi Prioritas Utama Pertahanan Tahun Ini

Modernisasi sistem pertahanan siber nasional menjadi prioritas utama pertahanan Indonesia tahun ini....


DMCA.com Protection Status

Kanal

© 2019 - 2026 | PT. Express Persada Linuhung. All Right Reserved