Findy Alfiansyah Penulis | M. Ridwan Habibie Editor
HARIANEXPRESS, TANGERANG SELATAN – Sekitar 800an umat Islam mengikuti shalat dan khutbah Idul Adha 1447 H di Lapangan Skadron-21/Akasa Aqraya Yudha (AAY), Penerbangan TNI Angkatan Darat, Pondok Cabe, Pamulang, Tangerang Selatan, Banten, Selasa (27/5/2026).
Pelaksanaan shalat Idul Adha tersebut mengusung tema “Kemenangan Nafsu Muthmainnah atas Nafsu Bahimiyah”. Sejak pagi, jamaah dari berbagai unsur masyarakat mulai memadati area lapangan. Mereka terdiri atas warga sekitar, anggota TNI, keluarga besar Skadron-21/AAY, serta masyarakat umum.
Panitia mengundang masyarakat dari berbagai wilayah seperti Pondok Cabe, Legoso, Pisangan, Cirendeu, Ciputat, Ciputat Timur, Pamulang hingga kawasan lain di Tangerang Selatan untuk hadir bersama keluarga.

Kegiatan berlangsung khidmat, tertib, dan penuh suasana kekeluargaan. Dukungan jajaran komando Skadron-21/AAY menjadi salah satu faktor penting dalam kelancaran acara tersebut. Komandan Skadron-21/AAY, Letkol Cpn Ardiansyah Agung Pramono, S.E., M.Han., menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan keagamaan yang mempertemukan nilai spiritual, kebersamaan, dan persatuan sosial.
“Kami sangat menyambut baik kegiatan ini. Lapangan tidak hanya menjadi tempat latihan dan operasi, tetapi juga ruang persaudaraan antar umat beragama. Semoga momentum Idul Adha memperkuat iman, kepedulian, dan persatuan kita sebagai bangsa,” ujar Letkol Ardiansyah Agung Pramono di sela-sela kegiatan.
Khutbah Idul Adha disampaikan oleh Dr. H. Imam Addaruqutni, SQ., M.A., Ketua Lembaga Hubungan dan Kerja Sama Internasional PP Muhammadiyah sekaligus Wakil Ketua Umum Pimpinan Pusat Dewan Masjid Indonesia periode 2024-2029.
Dalam khutbahnya, Dr. Imam Addaruqutni mengajak jamaah memaknai Idul Adha tidak semata sebagai ritual penyembelihan hewan kurban. Menurutnya, Idul Adha juga menjadi momentum untuk meneguhkan perjuangan manusia dalam mengendalikan hawa nafsu, atau yang ia sebut sebagai al-jihad al-akbar, yakni perjuangan terbesar dalam diri manusia.

Ia menjelaskan, terdapat perbedaan mendasar antara ibadah puasa dan ibadah haji. Puasa bersifat sirriyah, yakni ibadah yang lebih tersembunyi dan personal antara seorang hamba dengan Allah. Sementara itu, haji bersifat izhariyah, tampak secara lahiriah dan terbuka dalam ruang sosial. Meski berbeda bentuk, keduanya memiliki tujuan yang sama, yaitu membentuk pribadi yang bertakwa, rendah hati, dan menyadari bahwa seluruh manusia setara di hadapan Allah.
“Kemenangan sejati adalah ketika kita mampu menundukkan nafsu bahimiyah, yaitu nafsu hewani yang cenderung serakah, kasar, dan tidak terkendali, lalu menggantikannya dengan nafsu muthmainnah, jiwa yang tenang, patuh, dan berpegang teguh pada nilai kebenaran serta keadilan,” tegas Dr. Imam Addaruqutni di hadapan jamaah.
Dalam khutbah tersebut, ia juga mengisahkan seorang warga biasa di Masjidil Haram yang menolak meminta bantuan kepada khalifah. Sosok itu memilih menggantungkan seluruh harapan dan permohonannya hanya kepada Allah. Kisah tersebut, menurut Dr. Imam, menjadi pengingat agar setiap doa, ibadah, dan pengorbanan dilakukan dengan hati yang bersih, ikhlas, dan tidak bergantung pada selain Sang Pencipta.
Pelaksanaan shalat Idul Adha ini merupakan hasil kerja sama antara Pimpinan Ranting Muhammadiyah Legoso, Pimpinan Ranting Muhammadiyah Pondok Cabe Ilir, dan Pimpinan Ranting Muhammadiyah Cirendeu 2. Kolaborasi tersebut menghadirkan suasana keagamaan yang terbuka, tertib, dan menyatu dengan lingkungan masyarakat.
Salah seorang jamaah, Ahmad Fauzi (45), warga Pondok Cabe, mengaku terkesan dengan pelaksanaan shalat Idul Adha di lingkungan militer. Menurutnya, lokasi yang luas, pengamanan yang baik, serta pesan khutbah yang kuat membuat ibadah terasa lebih bermakna.
“Tempatnya luas, tertib, dan aman. Pesan khutbahnya sangat dalam. Kita diingatkan bahwa kurban bukan hanya menyembelih hewan, tetapi juga simbol pengorbanan untuk melawan keinginan diri sendiri demi ketaatan kepada Allah,” ujarnya.
Kesan serupa disampaikan Siti Aminah (38), warga Legoso, yang hadir bersama keluarga. Ia menilai pesan tentang persamaan derajat manusia di hadapan Allah menjadi bagian paling menyentuh dari khutbah Idul Adha tahun ini.
“Saya senang bisa ikut di sini. Selain dekat dari rumah, pesan tentang persamaan derajat manusia di hadapan Allah sangat menyentuh. Semoga tahun depan bisa kembali berkumpul di tempat yang sama,” katanya.
Salah satu daya tarik utama pelaksanaan Idul Adha tahun ini adalah doorprize paket umrah yang disiapkan panitia bagi para jemaah. Selain hadiah utama tersebut, panitia juga menyediakan sejumlah hadiah menarik lainnya untuk menambah semarak kegiatan.
Informasi mengenai doorprize itu cepat menyebar melalui media sosial dan grup percakapan warga. Hal tersebut turut meningkatkan antusiasme masyarakat untuk hadir dan mengikuti rangkaian kegiatan Iduladha.
Panitia berharap, kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang pelaksanaan ibadah, tetapi juga menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi dan hubungan sosial antar warga di kawasan Tangerang Selatan dan sekitarnya.
Acara ditutup dengan doa bersama dan harapan agar semangat Idul Adha membawa kedamaian, kepedulian, serta kebaikan bagi seluruh umat manusia. Kegiatan ini juga menjadi wujud sinergi positif antara unsur militer / TNI dan masyarakat sipil dalam memperkuat kerukunan, persaudaraan, dan kehidupan beragama yang harmonis.