HARIANEXPRESS, VALLETTA – Pengusaha terkemuka Yorgen Fenech dibebaskan dari tuduhan keterlibatan dalam pembunuhan jurnalis investigasi Daphne Caruana Galizia memicu protes dan pertanyaan tentang keadilan, Rabu (2/9/2026).
Putusan juri menyatakan Fenech tidak bersalah atas keterlibatan dalam pembunuhan berencana dan konspirasi kriminal dengan suara 8-1. Hasil persidangan terlama dalam sejarah Malta ini mengejutkan banyak pihak, terutama keluarga korban.
Fenech sebelumnya dituduh sebagai dalang di balik pembunuhan Caruana Galizia pada Oktober 2017, dengan pembayaran sebesar €150.000 melalui perantara. Kasus ini telah memicu krisis politik di Malta dan menggulingkan Perdana Menteri Joseph Muscat pada 2019.
“Keadilan ditolak,” ujar Matthew Caruana Galizia (putra tertua Caruana Galizia) setelah putusan di Valletta.
“Ini memberi sinyal bahwa Anda bisa membunuh jurnalis dengan impunitas,” tambah Corinne Vella (saudari Caruana Galizia).
Namun, Gianella De Marco (salah satu pengacara Fenech) menyatakan, “Kami senang keadilan telah ditegakkan,” merujuk pada putusan tersebut.
Daphne Caruana Galizia, 53 tahun, tewas dalam serangan bom mobil pada 16 Oktober 2017, setelah gencar melaporkan dugaan korupsi. Investigasinya menargetkan orang-orang di lingkaran dalam Perdana Menteri Joseph Muscat dan skandal proyek pembangkit listrik yang melibatkan Fenech.
Pada saat kematiannya, Caruana Galizia menghadapi lebih dari 40 gugatan pencemaran nama baik, atau yang dikenal sebagai Strategic Lawsuits Against Public Participation (SLAPP). Putusan bebas Fenech menimbulkan kekhawatiran tentang efek gentar terhadap jurnalis investigasi lainnya.
“Sembilan tahun setelah pembunuhan brutal Daphne, kegagalan institusional yang memungkinkan pembunuhannya tetap tidak tertangani dan tidak direformasi,” demikian pernyataan keluarga Caruana Galizia di Facebook. “Keadilan yang abadi berarti tidak seorang pun harus menghadapi risiko yang sama lagi.”
Penyelidikan independen tahun 2021 menyimpulkan bahwa negara Malta “harus memikul tanggung jawab” atas pembunuhan Daphne akibat budaya impunitas. Ini mendorong rekomendasi untuk memperkenalkan undang-undang perlindungan jurnalis Eropa dari SLAPP.
Beberapa individu lain telah divonis terkait pembunuhan ini, termasuk George dan Alfred Degiorgio yang dihukum 40 tahun pada 2022, serta Jamie Vella dan Robert Agius yang dijatuhi hukuman seumur hidup pada 2025. Vincent Muscat menerima 15 tahun penjara pada 2021, sementara perantara Melvin Theuma mendapatkan pengampunan presiden pada 2019.
Putusan bebas Yorgen Fenech ini kembali memicu tuntutan reformasi sistem hukum dan peradilan Malta, serta perlindungan lebih besar bagi jurnalis. Komunitas internasional terus mengamati perkembangan kasus yang dianggap sebagai simbol perjuangan kebebasan pers di Eropa.


