HARIANEXPRESS – Delapan puluh satu tahun telah berlalu sejak kehancuran dahsyat di Hiroshima dan Nagasaki akibat bom atom pada pengujung Perang Dunia II. Meskipun begitu, ancaman nuklir masih membayangi dunia hingga saat ini. Hingga awal tahun 2026, sembilan negara diperkirakan menguasai lebih dari 12 ribu hulu ledak nuklir, yang memiliki berbagai tingkat kesiapan operasional.
Amerika Serikat menjatuhkan bom atom pertama di Hiroshima pada tanggal 6 Agustus 1945, diikuti oleh bom nuklir kedua di Nagasaki tiga hari kemudian, yaitu pada 9 Agustus 1945. Kedua peristiwa ini menjadi satu-satunya penggunaan senjata nuklir dalam peperangan sepanjang sejarah.
Pemerintah Kota Hiroshima memperkirakan sekitar 140 ribu orang meninggal dunia hingga akhir Desember 1945 akibat ledakan, kebakaran, cedera, serta paparan radiasi. Sementara itu, Pemerintah Hiroshima dan Nagasaki menyebut jumlah korban meninggal di kedua kota mencapai sekitar 210 ribu jiwa pada akhir tahun tersebut. Angka pasti sulit dipastikan karena besarnya kerusakan dan keterbatasan pencatatan korban saat itu.
Sebagian besar korban adalah warga sipil, dan radiasi yang dilepaskan bom nuklir meninggalkan dampak kesehatan jangka panjang bagi para penyintas atau hibakusha. Tragedi tersebut menjadi pengingat global akan konsekuensi kemanusiaan yang tidak dapat dikendalikan dari penggunaan senjata nuklir.
Persenjataan Nuklir Dunia Mencapai 12.187 Hulu Ledak
Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) memperkirakan bahwa inventaris global pada Januari 2026 mencakup total 12.187 hulu ledak nuklir. Senjata-senjata ini tersebar di sembilan negara yang memiliki kekuatan nuklir, antara lain Rusia, Amerika Serikat, China, Prancis, Inggris, India, Pakistan, Israel, dan Korea Utara.
Dari jumlah tersebut, sekitar 9.745 hulu ledak berada dalam persediaan militer dan berpotensi digunakan dalam konflik. Kurang lebih 4.012 hulu ledak telah ditempatkan pada rudal atau pangkalan pesawat, sedangkan sisanya disimpan di fasilitas penyimpanan pusat.
Sekitar 2.100 hingga 2.200 hulu ledak yang telah ditempatkan berada dalam status siaga operasional tinggi pada rudal balistik. Mayoritas senjata dalam kategori ini dimiliki oleh Rusia dan Amerika Serikat, diikuti oleh Prancis dan Inggris dalam jumlah yang lebih kecil.
Jumlah total persenjataan nuklir dunia saat ini jauh lebih rendah dibandingkan puncaknya selama Perang Dingin. Federation of American Scientists (FAS) mencatat inventaris global pernah mencapai sekitar 70.300 hulu ledak pada tahun 1986. Namun, penurunan jumlah ini sebagian besar disebabkan oleh pembongkaran senjata-senjata lama yang dipensiunkan oleh Amerika Serikat dan Rusia. Di sisi lain, jumlah hulu ledak dalam persediaan militer justru menunjukkan kecenderungan peningkatan.
Rusia dan Amerika Serikat Mendominasi Kekuatan Nuklir
Rusia masih memimpin sebagai negara dengan inventaris nuklir terbesar di dunia. FAS memperkirakan Moskow memiliki sekitar 5.420 hulu ledak, yang terdiri dari 4.400 unit dalam persediaan militer dan sekitar 1.020 senjata yang telah dipensiunkan namun belum dibongkar sepenuhnya.
Amerika Serikat berada di posisi kedua dengan sekitar 5.042 hulu ledak. Dari angka tersebut, sekitar 3.700 unit termasuk dalam persediaan militer, sementara 1.342 lainnya telah dipensiunkan dan menunggu proses pembongkaran.
Secara gabungan, kedua negara ini menguasai sekitar 86 persen dari keseluruhan inventaris nuklir global dan 83 persen hulu ledak yang berada dalam persediaan militer. Rusia dan Amerika Serikat juga memiliki kemampuan peluncuran melalui tiga matra atau nuclear triad, yakni rudal berbasis darat, pesawat pengebom strategis, dan kapal selam bersenjata nuklir.
Kedua kekuatan nuklir tersebut terus menjalankan program modernisasi persenjataan mereka secara berkelanjutan. Rusia aktif memperbarui sistem rudal dan sarana peluncurannya, sementara Amerika Serikat mengembangkan generasi baru rudal balistik, kapal selam strategis, pesawat pengebom, serta senjata nuklir nonstrategis.
China Memperluas Kapasitas Nuklir dengan Cepat
China menempati posisi ketiga dengan perkiraan 620 hulu ledak nuklir dalam inventarisnya. Meskipun jumlah ini masih jauh di bawah persenjataan Rusia dan Amerika Serikat, Beijing tercatat sebagai negara yang memperluas kekuatan nuklirnya paling cepat dalam beberapa tahun terakhir.
SIPRI memperkirakan China telah menempatkan ratusan rudal pada tiga kompleks silo besar di wilayah utara negara tersebut. Beijing juga secara konsisten memperkuat rudal balistik antarbenua serta kemampuan nuklir berbasis laut dan udara mereka.
Jika ekspansi ini berlanjut, China berpotensi memiliki setidaknya 1.000 hulu ledak pada akhir dekade ini. Kendati demikian, jumlah tersebut diperkirakan masih hanya sekitar seperempat dari persediaan militer Rusia atau Amerika Serikat saat ini.
Prancis dan Inggris Jadi Kekuatan Nuklir Eropa
Prancis diperkirakan memiliki total 370 hulu ledak, namun sekitar 80 di antaranya telah dipensiunkan dan menunggu pembongkaran. Dengan demikian, persediaan militernya diperkirakan berjumlah sekitar 290 hulu ledak. Kekuatan nuklir Prancis sangat bertumpu pada kapal selam rudal balistik dan pesawat tempur yang mampu membawa senjata nuklir.
Inggris memiliki sekitar 225 hulu ledak, termasuk 120 unit yang diperkirakan telah ditempatkan pada kekuatan operasional. Persenjataan Inggris sepenuhnya mengandalkan rudal balistik yang diluncurkan dari kapal selam. Pemerintah Inggris sebelumnya juga menaikkan batas maksimum persediaan nuklir menjadi tidak lebih dari 260 hulu ledak.
Di luar persenjataan kedua negara ini, sejumlah bom nuklir B61 milik Amerika Serikat diperkirakan ditempatkan di beberapa pangkalan negara anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di Eropa.
India dan Pakistan Memiliki 360 Hulu Ledak
Dua negara bertetangga di Asia Selatan, India dan Pakistan, diperkirakan memiliki total sekitar 360 hulu ledak nuklir. India menguasai kurang lebih 190 hulu ledak, sedangkan Pakistan memiliki sekitar 170 unit.
India diyakini terus memperluas persenjataannya dan mengembangkan sistem peluncuran berjangkauan lebih jauh. Selain mempertimbangkan rivalitas lama dengan Pakistan, program nuklir New Delhi semakin diarahkan untuk menjangkau sasaran di wilayah China.
Pakistan juga mengembangkan sistem pengiriman baru dan menambah bahan fisil yang dapat digunakan untuk memproduksi senjata. Ketegangan antara kedua negara menjadi perhatian dunia karena keduanya pernah beberapa kali terlibat konflik bersenjata dan sengketa perbatasan.
Korea Utara dan Israel Tetap Minim Transparansi
Korea Utara diperkirakan telah merakit sekitar 60 hulu ledak nuklir, meskipun jumlah sebenarnya sulit diverifikasi secara independen. FAS memperkirakan Pyongyang memiliki bahan fisil yang cukup untuk memproduksi setidaknya 90 hulu ledak. Program nuklir Korea Utara terus berkembang seiring pengujian rudal balistik dan pengembangan sarana peluncuran baru.
Israel diperkirakan memiliki sekitar 90 hulu ledak nuklir. Namun, pemerintah Israel tidak pernah secara resmi mengonfirmasi ataupun menyangkal kepemilikan senjata tersebut. Kebijakan ambiguitas ini membuat ukuran dan komposisi persenjataan Israel tetap sulit dipastikan secara independen.
Perbedaan tingkat keterbukaan di antara negara-negara pemilik senjata nuklir menyebabkan seluruh angka tersebut harus dipahami sebagai estimasi. Data mengenai persediaan, penempatan, dan kesiapan operasional senjata nuklir umumnya menjadi rahasia negara, sehingga para peneliti menggunakan informasi pemerintah, citra satelit, catatan sejarah, laporan pertahanan, dan sumber terbuka lainnya untuk estimasi.
Ancaman Perlombaan Senjata Baru
SIPRI mencatat bahwa seluruh negara pemilik senjata nuklir melanjutkan program modernisasi pada tahun 2025. Sebagian negara bahkan menambah jumlah persediaan atau meningkatkan peranan senjata nuklir dalam strategi keamanan nasional mereka.
Kecenderungan ini berlangsung ketika rezim pengendalian senjata internasional menghadapi tekanan signifikan. Berakhirnya Perjanjian New START pada Februari 2026 meningkatkan ketidakpastian mengenai masa depan pembatasan kekuatan nuklir strategis Amerika Serikat dan Rusia.
Delapan puluh satu tahun setelah kehancuran Hiroshima dan Nagasaki, dunia memang belum kembali menyaksikan penggunaan senjata nuklir dalam peperangan. Namun, keberadaan lebih dari 12 ribu hulu ledak—ribuan di antaranya telah ditempatkan bersama sistem peluncur—menunjukkan bahwa risiko nuklir tetap menjadi persoalan nyata dalam keamanan global.
Peringatan Hiroshima dan Nagasaki karena itu tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang para korban yang tak terhitung jumlahnya. Tragedi tersebut juga menjadi seruan agar diplomasi, pengendalian persenjataan, dan komitmen perlucutan senjata kembali ditempatkan sebagai prioritas utama dalam menjaga perdamaian dunia.