Findy Alfiansyah Penulis | Ipnu S. Editor
HARIANEXPRESS, BEKASI – Kajian Tauhid menghadirkan KH Mukhlason Rosyid bertema “Ciri Orang yang Sudah Pulang” digelar di Asmara VIP Cafe, Bekasi, Jumat (22/5/2026).
Kajian yang dimulai pukul 21.00 WIB tersebut mengangkat tema reflektif tentang kesiapan manusia menghadapi kematian. Melalui tema “Sudah Siapkah Kita untuk Pulang?”, jamaah diajak memahami bahwa kematian adalah kepastian, sedangkan kesiapan menuju Allah perlu dibangun melalui tauhid, ibadah, akhlak, dan kesadaran spiritual dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam materi yang disampaikan, “pulang kepada Allah” tidak hanya dipahami sebagai kematian secara fisik. Secara syariat, kedekatan seorang hamba kepada Allah terlihat dari keistiqamahan dalam menjalankan ajaran agama. Semakin dekat seorang hamba kepada Allah, semakin baik pula ibadah, akhlak, dan muamalahnya kepada sesama manusia.

Sementara itu, dalam makna ma‘rifat, pulang kepada Allah dimaknai sebagai keadaan hati yang telah kembali dan terhubung kepada-Nya. Hati tersebut melewati proses muraqabah, fana, dan ma‘rifat, hingga seseorang mampu menjaga zikir, merasa tenang bersama Allah, serta tidak mudah terikat oleh kesombongan, riya, pujian manusia, dan kecintaan berlebihan terhadap dunia.
KH Mukhlason Rosyid menjelaskan beberapa tanda orang yang hatinya telah “pulang” kepada Allah. Di antaranya, lebih mencintai Allah daripada dunia, hanya bergantung kepada Allah, lebih senang berzikir dan beribadah daripada mengikuti hawa nafsu, serta merasakan ketenteraman ketika mengingat Allah.
Menurutnya, hati yang dekat kepada Allah juga akan merasa sedih ketika lalai dan takut bila jauh dari Allah meski hanya sesaat. Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kualitas tauhid seseorang tidak cukup diukur dari ucapan, tetapi juga dari perubahan sikap, ibadah, dan akhlak dalam kehidupan nyata.
Materi kajian diperkuat dengan beberapa ayat Al-Qur’an. Di antaranya Surah Al-Baqarah ayat 165 tentang kuatnya cinta orang beriman kepada Allah, Surah Al-Fatihah tentang penghambaan dan permohonan pertolongan hanya kepada Allah, Surah Ar-Ra’d ayat 28 tentang ketenteraman hati melalui zikir, serta Surah Al-Anfal ayat 2 tentang ciri orang mukmin yang hatinya bergetar ketika nama Allah disebut.

Salah satu jamaah, Tubagus (TB) Abdul Aziz dari Majelis At-Tadzkir, Pocis, Tangerang Selatan, menilai kajian tersebut memberi pengingat yang kuat tentang pentingnya memperbaiki hati sebelum menghadapi kematian.
“Kajian ini membuat saya kembali merenung. Pulang kepada Allah bukan hanya soal meninggal dunia, tetapi soal bagaimana hati kita sudah siap kembali kepada-Nya. Pesannya sederhana, tapi sangat dalam,” ujar TB. Abdul Aziz.
Hal senada disampaikan Kang Reza Kurniawan dari Padepokan Nataksara, Pocis, Tangerang Selatan. Ia menilai materi kajian mudah dipahami dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.
“Saya merasa materi ini dekat sekali dengan kehidupan kita. Kadang kita sibuk mengejar dunia, tapi lupa menata hati. Dari kajian ini saya diingatkan untuk lebih banyak berdzikir, memperbaiki ibadah, dan menjaga hubungan dengan sesama,” kata Kang Reza.
Sementara itu, Kang Yana dari Pondok Petir, Bojongsari, Depok, menyebut kajian ini memberi dorongan untuk memperbaiki kualitas diri secara bertahap.
“Yang paling menyentuh bagi saya adalah penjelasan bahwa orang yang dekat dengan Allah akan tampak dari akhlaknya. Jadi bukan hanya banyak ibadah, tetapi juga harus lebih baik dalam bersikap kepada orang lain,” ungkap Kang Yana.
Kajian ini juga menjadi pengingat bahwa tauhid tidak berhenti pada pemahaman lisan. Tauhid perlu hadir dalam perilaku. Orang yang memahami tempat kembalinya ruh akan lebih berhati-hati dalam menjalani hidup. Ia tidak hanya memperbaiki hubungan dengan Allah, tetapi juga memperbaiki sikap kepada keluarga, masyarakat, dan lingkungan sekitarnya.
Selain berlangsung secara langsung di Bekasi, kegiatan ini juga diinformasikan melalui kanal YouTube Ponpes Jaya Baru. Penyelenggara turut mengajak masyarakat mengikuti pembaruan kegiatan melalui YouTube JBJABODETABEKOFFICIAL dan TikTok JB Jabodetabek Official.
Melalui kajian ini, jamaah diajak merenungkan kembali arah hidupnya. Sebab, kesiapan untuk “pulang” tidak hanya ditentukan oleh usia, tetapi oleh keadaan hati, kualitas ibadah, dan kesungguhan seorang hamba dalam kembali kepada Allah.


