Sunday, 06 September 2026
Hot

Saya Tidak Percaya Indonesia menuju Kebangkrutan

Narasi kebangkrutan Indonesia digaungkan di tengah tantangan program Makan Bergizi Gratis (MBG) Pemerintahan Prabowo-Gibran yang alami kasus keracunan. Masyarakat didorong kritis memverifikasi informasi dan data valid.

Article ad before first paragraph

Ipnu Subroto Editor

Narasi Indonesia menuju kebangkrutan begitu menggema.

Article ad in the middle of article

Dalam setiap aksi demonstrasi mahasiswa di Jakarta, narasi tersebut diteriakkan dengan penuh gegap gempita. Seolah-olah teriakan para mahasiswa itu merupakan realitas yang sebenarnya.

Namun, kita sebagai rakyat dan bagian penting dari bangsa dan negara wajib bertanya: benarkah Indonesia, negara yang kita bangun melalui revolusi perjuangan, lahir dari perjuangan panjang mengusir penjajah hingga menyatukan batin seluruh bangsa Nusantara melalui Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928, kemudian mencapai puncaknya melalui Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia pada 17 Agustus 1945 yang dibacakan oleh Soekarno-Hatta dalam kondisi penuh perjuangan?

Pertanyaan ini harus kita ajukan untuk memperoleh jawaban yang sebenarnya. Kita sebagai rakyat tidak boleh menerima opini yang diapungkan oleh para “buzzer” sebagai sebuah kebenaran tanpa didukung oleh bukti otentik, data yang valid, dan informasi yang telah diverifikasi secara benar.

Dalam pandangan penulis, di bawah kepemimpinan Pemerintahan Prabowo-Gibran saat ini, Indonesia sedang mengalami proses evolusi pembangunan menuju arah yang lebih baik dan diharapkan dapat memberikan manfaat nyata bagi rakyatnya.

Namun demikian, berbagai persoalan yang muncul dalam proses evolusi tersebut harus kita sikapi secara objektif agar masyarakat tidak terjebak dalam pandangan yang menyesatkan.

Salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian serius adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang beberapa kali menghadapi permasalahan berupa kasus keracunan siswa maupun santri hingga menimbulkan korban jiwa.Kondisi tersebut harus mendapatkan solusi nyata yang benar-benar mampu menyelesaikan persoalan secara menyeluruh.

Sebab, program MBG yang memiliki visi besar dan strategis dapat kehilangan kepercayaan publik apabila pengelolaannya tidak dilakukan dengan pola pikir seorang bangsawan dan negarawan.

Apabila ditelisik lebih jauh, persoalan mendasar dalam pengelolaan SPPG adalah masih adanya kecenderungan sebagian pihak yang melihat program tersebut dengan pola pikir pedagang, yaitu lebih berorientasi pada keuntungan sebesar-besarnya dibandingkanmengutamakan tanggung jawab pelayanan publik.

Hal ini merupakan persoalan fundamental yang harus diselesaikan secara menyeluruh. Tanpa adanya perbaikan mendasar, MBG berpotensi menjadi tantangan besar bagi Pemerintahan Prabowo-Gibran. Apabila program tersebut dianggap gagal, maka akan menjadi pekerjaan berat bagi pemerintah dalam membangun kembali keyakinan rakyat menjelang Pemilu 2029.

Persoalan seperti MBG inilah yang kemudian berkembang menjadi bola salju dan turut membentuk opini publik bahwa Indonesia sedang menuju kebangkrutan.

Kita harus menyadari sepenuhnya bahwa setiap opini dan narasi yang disampaikan kepada publik memiliki kepentingan dan agenda masing-masing.

Oleh karena itu, masyarakat Indonesia harus menyikapinya secara objektif dengan berlandaskan data yang benar, fakta yang terverifikasi, serta analisis yang rasional.

Penulis sendiri meyakini bahwa rakyat Indonesia akan memasuki gedung kemerdekaan yang sesungguhnya dan menikmati sajian kemerdekaan di meja makan dengan penuh kebahagiaan.

Merdeka…!!!

Article ad after last paragraph