HARIANEXPRESS, TAIPEI — Pemerintah Kota Taipei menghentikan kerja sama penyedia makan siang di Chengyuan High School setelah 87 siswa mengalami diare seusai menyantap makanan sekolah pada Senin (07/09/2026) lalu.
Sebanyak 87 siswa kelas 9 atau jenjang sekolah menengah pertama di Chengyuan High School dilaporkan mulai mengalami diare sekitar pukul 22.00 waktu setempat, beberapa jam setelah makan siang di sekolah.
Sejumlah orang tua dan siswa sebelumnya melaporkan bahwa daging yang disajikan pada makan siang hari itu diduga memiliki bau asam atau tidak normal.
Dinas Kesehatan Taipei menerima laporan sekolah pada Selasa (08/09/2026) sekitar pukul 11.00 waktu setempat.
Petugas kemudian mendatangi lokasi, melakukan pemeriksaan, mengambil sampel, dan memerintahkan penghentian operasional dapur.
Lima Pelanggaran Higiene Ditemukan
Pemeriksaan menemukan lima kekurangan terkait higiene di area penyediaan makanan.
Temuan tersebut antara lain kotoran di bawah lemari pendingin, genangan air di lantai, serta rak dan bagian peralatan yang tidak bersih.
Dinas Kesehatan memerintahkan pengelola memperbaiki kekurangan tersebut paling lambat 11 September 2026.
Sebanyak 11 sampel juga diambil dari sisa makanan, lingkungan dapur, serta usap tangan pekerja.
Sampel itu diperiksa bersama sampel dari siswa untuk membantu memastikan penyebab gangguan kesehatan.
Otoritas Taipei menegaskan bahwa kejadian tersebut masih ditangani sebagai dugaan keracunan makanan.
Penyebab pasti diare belum dapat disimpulkan hanya berdasarkan waktu munculnya gejala maupun temuan kebersihan di dapur.
Kontrak Penyedia di Chengyuan Diakhiri
Perusahaan yang mengoperasikan layanan tersebut adalah Lian Da Zhuang Enterprise Co., Ltd.
Setelah kasus Chengyuan, kerja sama penyedia makanan untuk lokasi tersebut diakhiri.
Dinas Pendidikan Taipei juga membahas penghentian kerja sama dengan perusahaan yang sama di sekolah lain.
Perhatian kemudian mengarah ke Da Li Senior High School setelah lebih dari 10 siswa dilaporkan mengalami gangguan kesehatan.
Sejumlah siswa yang diperiksa didiagnosis mengalami gastroenteritis akut, sementara keterkaitannya dengan makanan sekolah masih diselidiki.
Pemerintah Taipei kemudian memperluas pemeriksaan terhadap layanan makanan di sekolah-sekolah lain.
Dalam pemeriksaan lanjutan terhadap enam kantin sekolah menengah, petugas menemukan kekurangan pengelolaan higiene dengan tingkat berbeda di seluruh lokasi yang diperiksa.
Empat di antaranya—Neihu High School, Jingmei Girls High School, Jianguo High School, dan Huajiang High School—menggunakan penyedia yang sama dengan Chengyuan.
Ancaman Denda hingga NT$200 Juta
Dinas Kesehatan Taipei menyatakan pelanggaran dapat berujung sanksi berdasarkan Undang-Undang Keamanan dan Sanitasi Pangan Taiwan.
Apabila hasil pemeriksaan menyimpulkan kejadian tersebut merupakan kasus keracunan makanan yang melanggar ketentuan keamanan pangan, sanksinya dapat berkisar NT$60 ribu hingga maksimal NT$200 juta.
Nilai maksimum tersebut sebelumnya diperkirakan media Indonesia setara sekitar Rp111 miliar.
Pemerintah kota juga meningkatkan inspeksi mendadak terhadap lingkungan dan proses penyediaan makanan di sekolah, termasuk pemeriksaan bahan makanan, proses memasak, distribusi, serta sanitasi.
Kasus tersebut terjadi tidak lama setelah Taipei mulai menerapkan program makan siang gratis bagi siswa sekolah dasar dan sekolah menengah pertama pada tahun ajaran baru.
Hingga perkembangan terbaru yang dapat diverifikasi, penyelidikan terhadap penyebab pasti gangguan kesehatan siswa Chengyuan masih menjadi bagian penting dalam penentuan tanggung jawab atas kasus tersebut.







