Wednesday, 16 September 2026
Hot

Yang Tidak Masuk Berita, Bukan Berarti Tidak Penting

Banyak pelaku UMKM tak pernah masuk berita, tetapi terus berjuang menghidupi keluarga dan menggerakkan ekonomi. Kisah mereka layak dilihat, didengar, dan dihargai.

Article ad before first paragraph

Seorang teman pernah bercerita kepada saya tentang usahanya. Omzetnya tidak besar, tokonya juga tidak pernah masuk berita, bahkan akun media sosialnya hampir tidak pernah mendapatkan perhatian. Lalu ia berkata sambil bercanda, “Jangan-jangan usaha saya belum bisa disebut berhasil karena tidak pernah diliput media.”

Saya bilang, “Memangnya keberhasilan harus menunggu wartawan datang?”

Article ad in the middle of article

Kami tertawa, tetapi pertanyaan itu sebenarnya menarik. Sebab tanpa disadari, kita memang semakin sering menganggap sesuatu penting ketika sesuatu itu ramai diberitakan, viral di media sosial, atau dibicarakan banyak orang. Seolah-olah kalau kamera tidak datang, maka ceritanya tidak cukup penting untuk diceritakan. Padahal, kehidupan sehari-hari justru dipenuhi cerita yang tidak pernah masuk berita.

Beberapa waktu lalu saya bertemu dengan seorang pelaku usaha mikro. Dagangannya sederhana dan tempat usahanya juga tidak istimewa, sebuah garasi rumah. Tidak ada papan nama besar, tidak ada desain toko yang instagramable, apalagi berita tentang perjalanan bisnisnya. Setiap pagi ia membuka usaha, melayani pelanggan, kemudian malam hari menghitung hasil penjualan. Begitu setiap hari. Tidak spektakuler memang, tetapi ketika saya bertanya untuk apa hasil usahanya digunakan, jawabannya membuat saya melihat usahanya dengan cara yang berbeda.

“Untuk biaya sekolah empat anak saya. Isteri saya meninggal ketika melahirkan si bungsu”, katanya. “Jualan di rumah membuat saya bisa tetap memperhatikan anak-anak. Yaaa…namanya juga usaha”, lanjutnya.

Saya kemudian berpikir, bukankah itu juga sebuah keberhasilan? Hanya saja, mungkin keberhasilan seperti itu tidak cukup menarik untuk menjadi sebuah konten. Kita sering melihat kewirausahaan dari sisi yang terlalu gemerlap. Pengusaha sukses digambarkan dengan omzet miliaran, cabang di banyak kota, jumlah pengikut yang besar, atau kisah bisnis yang berhasil menjadi viral. Semua itu tentu menarik dan layak diapresiasi, namun di balik cerita besar tersebut ada ribuan, bahkan jutaan pelaku usaha yang menjalankan bisnis dalam skala yang jauh lebih sederhana.

Ada ibu yang membuat kue dari dapur rumah untuk membayar uang sekolah anaknya. Ada pedagang kecil yang tetap berjualan meskipun keuntungan hariannya tidak seberapa. Ada tukang servis yang bertahun-tahun mempertahankan pelanggan dari mulut ke mulut. Ada anak muda yang menjalankan usaha digital dari kamar rumahnya. Ada guru yang mengajar dengan bayaran sangat rendah. Ada pula penyandang disabilitas yang memilih berwirausaha karena ingin memperoleh penghasilan sendiri.

Hanya saja, prestasi semacam itu jarang menjadi berita. Mengapa? Karena berita biasanya mencari sesuatu yang luar biasa, sementara kehidupan justru dibangun oleh sesuatu yang biasa tetapi terus dilakukan. Saya jadi teringat tulisan sebelumnya tentang data, “kita terlalu sibuk mengukur, sampai lupa mendengar”. Kini mungkin kita juga perlu belajar melihat “yang tidak terlihat bukan berarti tidak ada”.

Dalam penelitian kita mengenal istilah hidden voices, suara-suara yang tidak selalu terdengar. Kewirausahaan pun begitu, ada banyak pengusaha yang tidak masuk statistik besar, tidak masuk pemberitaan, bahkan tidak masuk radar perhatian kita tetapi mereka ada dan bekerja.

Mereka mungkin tidak pernah masuk televisi, tidak pernah menjadi berita utama, tidak pernah viral di media sosial melalui fyp dan pov, tetapi mereka bertahan dan menghidupi keluarganya. Bukankah itu penting? Mungkin persoalannya bukan pada mereka yang tidak punya cerita tetapi pada kita yang terlalu jarang bertanya.

Kita sering membeli dagangan seorang pedagang setiap minggu, tetapi tidak pernah bertanya sudah berapa lama ia menjalankan usaha. Kita mengenal warung di dekat rumah, tetapi tidak tahu bagaimana pemiliknya bisa bertahan melewati masa sulit. Kita melihat seorang pengusaha kecil berjualan setiap hari, tetapi tidak pernah tahu bahwa dari keuntungan yang terlihat kecil itulah anaknya bisa jadi sarjana. Padahal, kalau kita mau berhenti sebentar dan mendengarkan, bisa jadi cerita mereka jauh lebih manusiawi daripada berita tentang kesuksesan yang sering kita baca.

Saya kira, kewirausahaan bukan hanya soal berapa besar omzet yang berhasil dicapai. Ada juga keberanian untuk memulai, ketekunan untuk bertahan, kemampuan bangkit setelah gagal, dan kebanggaan ketika seseorang akhirnya mampu memenuhi kebutuhan keluarganya dari usaha sendiri. Semua itu mungkin tidak menjadi berita, tetapi bukan berarti tidak penting. Sebab tidak semua keberhasilan membutuhkan kamera dan tidak semua perjuangan membutuhkan tepuk tangan.

Article ad after last paragraph
Fachmi Ibrahim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *