Saturday, 12 September 2026
Hot

Pemprov Jabar Integrasikan Sekolah Maung dengan Industri, Perkuat Kesiapan Kerja

Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) memperkuat sinergi antara Sekolah Manusia Unggul (Maung) dan dunia industri. Kerja sama ini melibatkan 13 SMK dan 26 perusahaan, bertujuan menyelaraskan pembelajaran dengan kebutuhan dunia kerja.

Article ad before first paragraph

Findy Alfiansyah Penulis

HARIAN EXPRESS, JAWA BARAT – Pemprov Jawa Barat menggandeng dunia usaha melalui penandatanganan MoU untuk menyelaraskan pendidikan Sekolah Manusia Unggul (Maung) dengan kebutuhan industri, Senin (20/07/2026).

Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, Purwanto, mengatakan penandatanganan MoU ini melibatkan 13 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Maung dan 26 perusahaan dari berbagai sektor industri.

Kerja sama tersebut bertujuan menyelaraskan proses pembelajaran di sekolah dengan kebutuhan dunia kerja, sehingga lulusan memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri.

Article ad in the middle of article

Perusahaan yang terlibat di antaranya PT Solu Filantropi Teknologi, PT Usaha Adi Sanggoro, Hotel Novotel Bogor, hingga PT Sepa Coklat Indonesia.

Purwanto menyebutkan bahwa Jawa Barat memiliki sekitar 1.123 industri potensial yang bisa menjadi mitra bagi peningkatan kualitas lulusan SMK. Saat ini, terdapat 13 SMK Maung di wilayah Jawa Barat dengan 99 konsentrasi keahlian yang berbeda.

“Industri bisa jadi living lab anak-anak sehingga mereka tahu keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri,” Ucap Purwanto.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Herman Suryatman, menilai kerja sama ini merupakan langkah penting dalam menjawab berbagai tantangan ketenagakerjaan. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, sekolah, dan dunia usaha wajib terus diperkuat agar lulusan SMK semakin siap bersaing di pasar kerja.

Herman menambahkan bahwa Indonesia akan memasuki masa bonus demografi dalam lima tahun ke depan. Oleh karena itu, Pemprov Jawa Barat berupaya mempersiapkan generasi muda agar mampu bersaing sebagai tenaga kerja maupun wirausahawan.

“Anak-anak kita nanti pada 2045 menjadi future leader, menjadi para pemimpin masa depan bukan sebaliknya menjadi beban masa depan,” Ucap Herman Suryatman.

Dia juga menjelaskan pentingnya memanfaatkan bonus demografi secara optimal. Jika tidak dikelola dengan tepat, Indonesia berisiko terperangkap dalam jebakan kelas menengah (middle income trap).

Article ad after last paragraph