Delegasi Amerika Serikat pimpinan Wakil Presiden JD Vance dan Iran pimpinan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf gagal menyepakati kesepakatan damai setelah negosiasi langsung selama 21 jam di Hotel Serena, Islamabad. Perundingan ini menjadi pertemuan tatap muka pertama kedua negara dalam 10 tahun. (12/04/2026)
Hotel Serena Islamabad menyaksikan ketegangan diplomasi tertinggi sejak Revolusi Islam Iran 1979. Delegasi AS dan Iran duduk bersama tanpa telepon seluler di ruang tertutup. Mereka berunding sejak Sabtu (11/4/2026) hingga Minggu (12/4/2026). Pakistan bertindak sebagai mediator netral yang aktif.
Perundingan ini berlangsung di tengah gencatan senjata rapuh yang sudah dua minggu berlaku di Timur Tengah. Kedua pihak datang dengan harapan tinggi. Sumber Reuters yang mengikuti proses menyatakan negosiasi sempat mencapai 80 persen kesepakatan sebelum akhirnya runtuh.
Optimisme memudar saat pembahasan memasuki isu inti. Delegasi AS yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance menuntut Iran menghentikan total pengayaan uranium dan membongkar fasilitas nuklir utama. AS juga menegaskan Selat Hormuz harus terbuka tanpa pungutan dan Iran wajib hentikan dukungan terhadap kelompok proksi di kawasan.
Iran yang dipimpin Mohammad Bagher Ghalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi membalas dengan tuntutan tegas. Mereka meminta pencabutan sanksi ekonomi secara menyeluruh, pengakuan hak pengayaan uranium untuk keperluan sipil, serta jaminan gencatan senjata permanen. Perbedaan posisi ini langsung memicu perdebatan sengit.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi meninggikan suara saat mempertanyakan komitmen Washington yang ia anggap tidak konsisten. Suara perdebatan bahkan terdengar hingga koridor hotel. Mediator Pakistan langsung turun tangan. Panglima Militer Jenderal Asim Munir dan Menteri Luar Negeri Ishaq Dar memisahkan kedua delegasi ke ruangan berbeda untuk meredakan ketegangan.
Pakistan memainkan peran kunci sejak awal. Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan timnya memfasilitasi seluruh proses. Hotel Serena di kawasan Red Zone Islamabad dipilih karena lokasinya aman dan netral. Media internasional memantau ketat dari luar venue. Sumber pemerintah Pakistan menyebut jarak menuju kesepakatan sangat tipis sebelum akhirnya gagal.
Negosiasi berlangsung dalam tiga ronde. Ronde pertama tidak langsung, sementara dua ronde berikutnya tatap muka penuh. Total durasi mencapai 21 jam tanpa jeda panjang. Delegasi AS berjumlah sekitar 300 orang, Iran sekitar 70 orang. Mereka bolak-balik melapor ke ibu kota masing-masing melalui jalur aman.
AS menyalahkan Iran atas kegagalan. Wakil Presiden JD Vance menyatakan kepada pers di Islamabad bahwa Iran menolak menerima syarat-syarat Amerika. “The bad news is that we have not reached an agreement. And I think that’s bad news for Iran much more than it’s bad news for the US… they have chosen not to accept our terms,” kata Vance sebelum naik Air Force Two.
Iran membalas bahwa mereka tidak pernah berharap kesepakatan lahir di pertemuan pertama. Teheran menilai Washington mengubah posisi di menit-menit akhir. Meski demikian, kedua pihak sepakat jalur komunikasi tetap terbuka. Pakistan menyatakan siap menjadi jembatan untuk putaran berikutnya.
Poin krusial yang menjadi batu sandungan mencakup tiga hal utama. Pertama, program nuklir Iran: AS ingin penghentian pengayaan uranium sepenuhnya, Iran ingin hak tersebut diakui. Kedua, sanksi ekonomi: Iran menuntut pencabutan total, AS hanya siap melonggarkan secara bertahap. Ketiga, Selat Hormuz: AS ingin akses bebas tanpa biaya, Iran tolak intervensi asing.
Kegagalan ini memperpanjang ketidakpastian keamanan energi global. Selat Hormuz menjadi jalur utama pasokan minyak dunia. Konflik enam minggu sebelumnya sudah mengguncang Timur Tengah. Gencatan senjata rapuh yang Pakistan fasilitasi kini terancam jika tidak ada kemajuan diplomasi lanjutan.
Pakistan muncul sebagai aktor diplomasi regional yang diakui dunia. Perdana Menteri Shehbaz Sharif, Jenderal Asim Munir, dan Ishaq Dar aktif memediasi sejak awal. Mereka berhasil membawa musuh lama ke meja yang sama untuk pertama kalinya dalam satu dekade. Meski gagal, Pakistan menyatakan proses ini membuka pintu dialog yang sebelumnya tertutup.
Sumber Reuters yang mengutip 11 pejabat familiar dengan negosiasi menyebut kemajuan nyata sudah tercapai. Kedua delegasi mengakui ada titik temu di beberapa isu teknis. Namun perbedaan mendasar di isu strategis membuat kesepakatan lengkap mustahil malam itu.
Dampak langsung pasca-perundingan mulai terlihat. AS mengumumkan rencana langkah tambahan jika Iran tidak kooperatif. Iran mengancam respons tegas jika tekanan berlanjut. Namun kedua belah pihak menekankan komitmen untuk melanjutkan dialog melalui jalur tidak langsung jika perlu.


